PATROLI POST

Kabar Terbaru dari Bali

Kamis, 13 Agustus 2009

KSU Bale Dana Mesari Garap Petani Kopi

Pasarkan ‘Tai Lubak’ Hingga ke Mancanegara

Sejauh ini kabupaten Bangli memang layak disebut sebagai sentra pengahasil kopi, didukung topografinya yang berada di daerah ketinggian, berbagai jenis tanaman kopi dapat tumbuh subur. Koperasi Serba Usaha (KSU) Bale Dana Mesari memanfaatkan potensi ini dan mampu memasarkan produk kopi ‘Tai Lubak’ hingga ke manca Negara.


BANGLI (Patroli Post) - Maka tidaklah heran kalau petani yang memmpunyai lahan disekitaran Desa Pengotan hingga Kecamatan Kintamani, lebih memilih menanam kopi darapada tanaman jenis lainya. Hal ini yterbukti di Desa Pengotan, dimana sebagaian lahan pertanian disulap menjadi hutan kopi terutama tanaman kopi jenis Arabika. Namun kekhawatiran petani akan terjadinya permainan harga pada saat musim panen adalah suatu hal yang ditakutkan.
Bwerkaitan dengan itu munculah ide dari beberapa petani subak abian membentuk sebuah badan usaha (koperasi), yang pada nantinya hasil panen bisa dibeli koperasi dan kopi langsung diolah dan dipasarkan.
Manejer Koperasi Serba Usaha (KSU) Bale Dana Mesarai, Nengah Purna menuturkan, KSU didirikan 31 Desember 2004. “Ide mendirikan koperasi ini muncul secara tiba-tiba. Waktu itu kita kumpul dengan teman-teman seprofesi, lantas tanpa disadari muncul niat membentuk koperasi,” ungkapnya, seraya menambahakan awal berdirinya KSU hanya beranggotakan 33 orang, dimana setiap anggota kena simpanan pokok Rp1 juta dan simpanan wajib Rp10 ribu perbulan.
Tambah pria yang juga bertugas di Panwas Bangli ini setelah beberapa tahun berjalan, jumlah anggota meningkat menjadi 346 anggota saat ini. Dalam perjalanannya koperasi mengemban usaha membeli hasil panen kopi milik petani dan selanjutnya dengan usaha pengolahan menjadi kopi siap edar. Terkait dengan pemasaran hasil produksi kopi, KSU Bale Dana Mesari bekerjasama dengan eksportir kopi PT Asal Jaya Dampit Malang.
Tambah Purna untuk mendapatkan kwalitas kopi yang bagus, maka di saat pemetikan atau panen petani atau subak Abian menggunakan pola petik merah yang langsung diolah melalui mesin pengolahan guna menjaga keaslian aroma. Tidak itu saja, kini sudah dikembangkan kopi loak, yakni ‘Kopi Tain Lubak’ yang mekanisme pembuatan kopi loak itu memang sedikit rumit, dimana kopi yang nantinya diolah itu berasal dari sisa atau kotoran musang. “Untuk kopi jenis loak ini memang sangat digemari konsumen,” ujarnya. Dia menambahkan sejauh ini pangsa pasar kopi jenis arabika kopyor (arob) yang menjadi unggulan petani atau subak abian suka maju selain dipasarkan di tingkat lokal dan domestik juga sudah menembus pangsa pasar internasional atau diekspor ke Barzil, Jepang dan Prancis.
Namun demikian kata dia, di dalam perjalanan KSU ini juga sering mengalami kendala permodalan. “Kalau musim panen, tentu jumlah kopi yang kita tampung lumayan banyak dan untuk pembelian kopi dari petani sistemnya harus tunai,” kata dia. sam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar