Dinamika Internal PDIP
PDIP adalah partai yang memiliki satu pusat kekuasaan yang sesungguhnya, yaitu Megawati Soekarnoputri. Semua aktivitas politik PDIP berawal dan berakhir pada Megawati.
Tetapi belakangan kita mulai melihat bahwa tidak semua elit partai menjadikan kehendak politik Megawati sebagai tolok ukur saat melakukan maneuver politik .
Tentu tidak akan ada elit partai yang berani melakukan itu, terkecuali, Taufik Kiemas (TK), suami Megawati sendiri. Posisi TK memang tidak sekuat Mega tetapi relatif cukup penting di mata elit PDIP lainnya.
Sikap TK yang memuji pidato rancangan APBN dan nota keuangan 2010 Presiden sesungguhnya mengejutkan, tidak saja bagi para simpatisan tetapi juga bagi elit politik PDIP.
Bagimana bisa, TK secara spontan memuji RAPN 2010 sebagao pro rakyat dan membuka diri terhadap koalisi dengan Partai Demokrat?
Awalnya diduga, sikap TK sudah mendapat lampu hijau dari Megawati. Dan jika lampu hijau tersebut memang benar-benar ada tentu timbul keterkejutan lainnya, bagaimana bisa sikap Megawati melunak secara drastis terhadap SBY?
Tetapi semua pertanyaan tersebut terjawab setelah Megawati tidak menunjukkan tanda-tanda melunak. Dalam diskusi mengenai APBN 2010 di Megawati Institute, Megawati tetap menunjukkan sikap oposisi terhadap SBY.
Dengan demikian saat ini sedang terjadi dinamika internal ditubuh PDIP yang dimana kekukuhan Megawati untuk beroposisi terhadap SBY ‘ditantang’ sikap pragmatisme TK.
Bagaimana kemudian PDIP mengelola dinamika internal ini? Selama ini kita tahu bahwa elit partai yang ‘berseberangan’ dengan Megawati dipastikan akan terpental dari PDIP.
Tetapi dinamika internal yang muncul dari perbedaan pandangan antara Magawati dan TK tentu tidak akan mengakibatkan kejadian yang dramatis, misalnya TK terpental dari PDIP.
Tetapi perbedaan pandangan tersebut akan menimbulkan polarisasi diantara elit politik PDIP. Elit partai yang menilai oposisi terhadap SBY sebagai sesuatu yang merugikan PDIP tentu akan mendapat angin dengan sikap TK.
Selain itu PDIP yang terkesan monolitik ternyata memiliki dinamika di bawah permukaan yang tidak melulu senada dengan pandangan Megawati.
Posisi Megawati memang terlalu kuat. TK sendiripun bukan tandingan Megawati.
Hanya saja keberanian TK memberi pernyataan bersahabat terhadap SBY menunjukkan bahwa PDIP memiliki persoalan internal yang harus diselesaikan dengan baik. Bukankah partai yang besar adalah partai yang mampu mengelola konflik internal tanpa menyebabkan perpecahan?
Kamis, 06 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar