PATROLI POST

Kabar Terbaru dari Bali

Senin, 17 Agustus 2009

Indonesia Berpacu dengan Waktu

Oleh : IGM Pujastana

Sebuah bangsa, kata Benedict Anderson, adalah sebuah komunitas yang dibayangkan. Disebut demikian karena sebagian besar anggota suatu bangsa tidak saling mengenal satu sama lain.
Dengan demikian si A yang orang Bali hanya bisa membentuk imajinasi dalam pikirannya bahwa dia memiliki ikatan kebangsaan dengan si B yang merupakan orang Batak.
Keinginan dan keinsyafan untuk mengikat diri menjadi suatu bangsa inilah yang disebut sebagai nasionalisme. Setidak-tidaknya begitulah yang diajarkan Bung Karno.
Semakin tinggi tingkat diferensiasi suatu bangsa secara etnis, agama, suku dan bahasa, maka semakin besar tantangan bagi nasionalisme. Dan semakin besar tantangan bagi nasionalisme semakin besar kemungkinan terjadinya disintegrasi suatu bangsa.
Sejarah bangsa-bangsa di dunia menunjukkan bahwa elemen-elemen suku, ras dan agama adalah faktor-faktor potensial penyebab disintegrasi.
Srilangka, misalnya, sampai sekarang terus dihantui perpecahan akibat pertikaian antara suku Tamil yang minoritas dan Sinhala yang mayoritas.
India terus menerus digerogoti pergolakan akibat penduduk Kahsmir yang beragama Islam ingin memisahkan diri dari India yang mayoritas beragama Hindu.
Sementara itu Filipina terus dihantui pertikaian akibat keinginan Suku Moro yang muslim memisahkan diri dari negara Filipina yang mayoritas warganya memeluk Katolik. Di Thailand bagian selatan, penduduk Muslim terus menyebar teror agar keinginan mereka membetuk daerah otonomi khusus dikabulkan.

Indonesiaisme

Indonesia sendiri dalam sejarahnya tidak terlepas dari ancaman disintegrasi akibat perbedaan etnis dan agama. Nasionalisme Indonesia atau paham Indonesiaisme terus-menerus mengalami tantangan, mulai dari Gerakan RMS (Republik Maluku Selatan) yang beranggotakan etnis Maluku dan beragama Kristen sampai pada gerakan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII) yang ingin membentuk negara Islam.
Sebagai suatu organisasi DI/NII sudah lama mati. Tetapi ide-ide Islam radikal yang dianutnya terus-menerus mengalami metamorfosa.
Sebagian penganut nilai-nilai Islam radikal ini berjuang mewujudkan terbentuknya Negara Islam Indonesia dengan cara-cara damai, terutama melalui gerakan dakwah.
Tetapi sebagian lainnya melakukan perjuangannya dengan menebar teror. Jika benar sinyalemen Polri bahwa tindakan teror mulai mengarah pada presiden sebagai simbol utama paham Indonesiaisme, maka Bangsa Indonesia sesungguhnya sedang menghadapi tantangan serius.
Terorisme merupakan suatu gerakan yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu dengan cara kekerasan. Dengan demikian sesungguhnya terorisme berlawanan dengan semangat nasionalisme Indonesia yang didasarkan atas berbedaan nilai-nilai agama, ras, etik dan bahasa.
Perjuangan melawan terorisme di Indonesia pada hakekatnya adalah perjuangan melawan sebuah ide, dalam hal ini ide yang dilandasi nilai-nilai Islam radikal yang memaksakan suatu cara pandang tertentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sesungguhnya perjuangan melawan ide radikal bukanlah pengalaman baru. Indonesia pernah dicengkram komunisme dan berhasil lolos. Indonesia juga berhasil melepaskan diri dari kungkungan otoritarianisme dan militerisme.
Tetapi akankah Indonesia sebagai suatu bangsa bertahan dari terorisme?
Perembesan ide-ide radikal terorisme terjadi sedemikian cepat dan telah menciptakan
habitat yang begitu subur bagi para teroris. Kecepatan penyebaran ide terorisme membuat Bangsa Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk memulihkan lagi ide toleransi terhadap keragaman yang merupakan landasan bagi paham Indonesiaisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar