Program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) yang rencanannya diluncurkan tahun 2010 oleh Pemprov Bali, ternyata ditanggapi berbeda oleh Bupati Jembrana I Gede Winasa.
NEGARA (Patroli Post) - Menurut bupati yang banyak meraih penghargaan di tingkat nasional ini menilai, program JKBM menghambur-hamburkan uang negara. Hal itu disampaikan Winasa, Senin (31/8) kemarin.
Menurut Winasa, pada dasarnya pihaknya menyambut positif program JKBM, hanya saja dia masih meragukan implimentasi program tersebut terutama menyangkut sistem dan penyelenggaraan kesehatan gratis itu.
Lebih jauh dikatakan, Kabupaten Jembrana sendiri telah memiliki Jaminan Kesehatan Jembrana (JKJ). Dengan adanya rencana JKBM, pihaknya mengkhawatirkan akan terjadi tumpang tindih. “Kita di Jembrana sudah punya program tersebut (JKJ-red). Sistem yang digunakan pun sudah jelas dan telah berjalan dengan baik,” paparnya, seraya menambahkan, pihaknya tidak ingin terdapat doble anggaran yang dapat merugikan negara.
“Kalau di Jembrana kan sudah ada program tersebut. Jadi ngapain menghambur-hamburkan uang negara. Saya lebih setuju kalau bantuan kesehatan itu dalam bentuk subsidi, dimana anggaran dari Provinsi itu digunakan untuk biaya berobat lintas
kabupaten,” kata Winasa.
Sebagai misal, ada pasien Jembrana rujuk ke RS Tabanan atau Badung. Itulah yang semestinya yang dibiayai oleh Pemerintah Provinsi, “ tandasnya.
Winasa juga mempertanyakan soal kejelasan, minimal soal badan penyelenggara, biaya serta mekanisme pelaksanaan jaminan kesehatan tersebut. “Jadi harus jelas obyek, subyek dan sasaran, serta hasil yang didapat. Kalau cuma bagi-bagi anggaran itu kan gampang. Belikan saja kalkulator lalu dibagi-bagikan,” sindirnya.
Diungkapkannya, bila benar-benar nantinya program itu diterapkan, Winasa meminta agar sistemnya diserahkan penuh kepada kabupaten, terlebih di Jembrana sendiri yang secara produk hukum telah menerapkan Perda Jaminan Kesehataan dimaksud. “Jelas program itu tidak bisa disamaratakan pada semua kabupaten. Jembrana dan Bangli misalnya, jelas penanganannya beda, ” demikian Winasa. yud
Senin, 31 Agustus 2009
Rabu, 19 Agustus 2009
BKKBN Sasar “Lokalisasi” Padanggalak
Bagi-bagi Kondom Gratis
Pihak BKKBN Provinsi Bali, Rabu (19/8) kemarin, menyasar “lokalisasi” Jagung I Padanggalak, Denpasar Timur, sembari membagi-bagikan kondom KB secara gratis kepada warga setempat, termasuk para pekerja seks komersial (PSK).
DENPASAR (Patroli Post) - Hal itu dilakukan terkait dengan program KB yang dapat mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS. Kegiatan tersebut berlangsung di sela-sela Rapat Evaluasi Program PKMR hari II bagi kepala seksi dan orientasi PMKR untuk mitra kerja wilayah III Indonesia Timur.
Mendapat kondom gratis itu, para PSK terlihat sangat antusias menerimanya. Karena selama ini mereka mendapat kondom dengan cara membeli. Kendati demikian, animo pemakaian kondom di tempat “esek-esek” ini diakui seorang pengelola bisnis haram tersebut sangat tinggi.
“Kami di sini dalam setiap kali melayani tamu harus menggunakan kondom. Tetapi jika tamunya tetap ngotot tidak mau pakai kondom, maka terpaksa kami tolak, walaupun bayarannya lebih besar,” ungkap Ika, salah seorang PSK.
Tidak hanya para PSK yang ingin memakai kondom dalam setiap kali melayani para lelaki hidung belang, tetapi para pengelola tempat esek-esek tersebut juga mengimbau agar para PSK selalu memakai pelindung dalam melayani tamunya.
Nyoman, salah seorang pengelola bisnis “daging mentah” tersebut misalnya. Warga Denpasar ini mengaku punya cara tersendiri untuk merangsang para “karyawannya” agar memakai kondom.
“Kami di sini juga mengimbau mereka untuk selalu memakai kondom. Bahkan, kami di sini melakukan lomba pemakaian kondom terbanyak setiap tiga bulan sekali. Dalam tiga bulan siapa yang menghabiskan kondom terbanyak, berarti dia yang juara. Hadiahnya berupa uang dan kondom juga,” tuturnya.
Meski demikian, respon dari para PSK untuk menggunakan kondom KB sepertinya kurang diminati. Pasalnya, kondom KB dinilai terlalu tebal dan kurang minyak pelicin.
“Pembagian kondom gratis ini sudah bagus, tapi terlalu tebal sehingga nanti tamunya komplain bahwa tidak bisa rasa. Selain itu, minyak pelicinnya juga kurang sehingga perempuannya yang merasa kesakitan saat berhubungan. Kalau Sutra kan tipis dan halus, meski resikonya gampang pecah saat orgasme,” ungkap Dewi, PSK lainnya.
Padahal menurut Inspektur Utama BKKBN Pusat, Drs Anwar Mohammad Diah MM yang memimpin pembagian kondom gratis itu, kondom KB keluaran terbaru di ujungnya berbentuk gerigi dan pinggirannya bergelombang sehingga hal tersebut akan memberi kenikmatan tersendiri bagi perempuan. “Yang kami cari kan bukan kenikmatannya, tetapi uangnya. Jadi, harapan kami cepat orgasme. Selesai dan dapat bayaran,” sahut Dewi, tanpa malu-malu. “Oke, ini menjadi masukan buat kami supaya kondom KB keluaran terbaru nanti ditambah minyak pelicin,” jawab Anwar, seraya memuji bersihnya ‘lokalisasi’ Jagung I Padanggalak. ray
Pihak BKKBN Provinsi Bali, Rabu (19/8) kemarin, menyasar “lokalisasi” Jagung I Padanggalak, Denpasar Timur, sembari membagi-bagikan kondom KB secara gratis kepada warga setempat, termasuk para pekerja seks komersial (PSK).
DENPASAR (Patroli Post) - Hal itu dilakukan terkait dengan program KB yang dapat mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS. Kegiatan tersebut berlangsung di sela-sela Rapat Evaluasi Program PKMR hari II bagi kepala seksi dan orientasi PMKR untuk mitra kerja wilayah III Indonesia Timur.
Mendapat kondom gratis itu, para PSK terlihat sangat antusias menerimanya. Karena selama ini mereka mendapat kondom dengan cara membeli. Kendati demikian, animo pemakaian kondom di tempat “esek-esek” ini diakui seorang pengelola bisnis haram tersebut sangat tinggi.
“Kami di sini dalam setiap kali melayani tamu harus menggunakan kondom. Tetapi jika tamunya tetap ngotot tidak mau pakai kondom, maka terpaksa kami tolak, walaupun bayarannya lebih besar,” ungkap Ika, salah seorang PSK.
Tidak hanya para PSK yang ingin memakai kondom dalam setiap kali melayani para lelaki hidung belang, tetapi para pengelola tempat esek-esek tersebut juga mengimbau agar para PSK selalu memakai pelindung dalam melayani tamunya.
Nyoman, salah seorang pengelola bisnis “daging mentah” tersebut misalnya. Warga Denpasar ini mengaku punya cara tersendiri untuk merangsang para “karyawannya” agar memakai kondom.
“Kami di sini juga mengimbau mereka untuk selalu memakai kondom. Bahkan, kami di sini melakukan lomba pemakaian kondom terbanyak setiap tiga bulan sekali. Dalam tiga bulan siapa yang menghabiskan kondom terbanyak, berarti dia yang juara. Hadiahnya berupa uang dan kondom juga,” tuturnya.
Meski demikian, respon dari para PSK untuk menggunakan kondom KB sepertinya kurang diminati. Pasalnya, kondom KB dinilai terlalu tebal dan kurang minyak pelicin.
“Pembagian kondom gratis ini sudah bagus, tapi terlalu tebal sehingga nanti tamunya komplain bahwa tidak bisa rasa. Selain itu, minyak pelicinnya juga kurang sehingga perempuannya yang merasa kesakitan saat berhubungan. Kalau Sutra kan tipis dan halus, meski resikonya gampang pecah saat orgasme,” ungkap Dewi, PSK lainnya.
Padahal menurut Inspektur Utama BKKBN Pusat, Drs Anwar Mohammad Diah MM yang memimpin pembagian kondom gratis itu, kondom KB keluaran terbaru di ujungnya berbentuk gerigi dan pinggirannya bergelombang sehingga hal tersebut akan memberi kenikmatan tersendiri bagi perempuan. “Yang kami cari kan bukan kenikmatannya, tetapi uangnya. Jadi, harapan kami cepat orgasme. Selesai dan dapat bayaran,” sahut Dewi, tanpa malu-malu. “Oke, ini menjadi masukan buat kami supaya kondom KB keluaran terbaru nanti ditambah minyak pelicin,” jawab Anwar, seraya memuji bersihnya ‘lokalisasi’ Jagung I Padanggalak. ray
Selasa, 18 Agustus 2009
Masih ada Oknum Polisi Langgar HAM dan Korupsi
Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Drs. Nanan Sukarna mengakui masih ada beberapa oknum polisi yang menyimpang dari jalur tugas yang sebenarnya, akibat kurangnya kesadaran dan tanggung jawab mereka dalam menjalankan tugas.
DENPASAR (Patroli Post) - “Saya bukan ngeles (mengelak-red) menang begitu kenyataannya. Sekarang aja masih banyak oknum polisi yang melanggar HAM, korupsi dan brutal,” tegas Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Nanan Sukarna pada Seminar Tentang Hak Asasi Manusia (HAM) di Denpasar, Selasa (18/8) kemarin.
Apabila bekerja berdasarkan aturan main kepolisian, kata Kadiv Humas, anggota Polri seyogyanya melaksanakan tugas penegakan hukum dan HAM, transparansi akuntabilitas ke publik serta comunity policing dengan baik dan bertanggung jawab.
Lebih jauh dikatakan, anggota Polri yang telah menjalani sidang disiplin di seluruh Indonesia dari tahun ke tahun jumlahnya mencapai ribuan orang. Bahkan, ada yang sudah dipecat karena terbukti terlibat berbagai persoalan.
Menurut Nanan Sukarna, pada 2007 anggota Polri yang telah menjalani tata tertib mencapai 13.481 orang. Sementara untuk sidang disiplin sebanyak 5.703 orang, dan yang sudah menjalani pidana 357 orang.
Jumlah tersebut meningkat tajam tahun 2008, yaitu mencapai 37.481 personel. Dengan rincian 7.035 personel menjalani tata tertib dan 1.164 personel dihukum sesuai prosedur tindak pidana.
Sementara tahun 2009 (hingga semester pertama), terdapat 11.995 personel anggota Polri yang terkena tata tertib dan 3.281 orang disidang disiplin dan 519 orang terkena tindak pidana. “Khusus untuk tahun 2009, sudah sebanyak 283 polisi yang dipecat. Dan yang melakukan kesalahan kinerja itu hanya oknumnya saja bukan institusinya,” kata Nanan Sukarna
Dijelaskan, dilihat dari jumlah personel yang dimiliki, Jajaran Polda Bali bisa dikategorikan yang paling ideal jika dibandingkan dengan jumlah personel yang dimiliki daerah lain.
Namun demikian, karena Bali menjadi salah satu daerah tujuan wisata paling diminati wisatawan asing, maka Bali diharapkan tetap mewaspadai masuknya teroris ke wilayah ini.
“Personel yang dimiliki Polda Bali adalah 1 banding 200, jelas ini sangat ideal. Angka ini jauh berbeda dengan daerah lain seperti Polda Jawa Barat yang hanya memiliki personel 1 berbanding 700,” papar Nanan Sukarna.
Untuk itu, ia minta Jajaran Polda Bali terus mengoptimalkan pengamanan dan mengawasi kelompok terorisme yang mencoba memasuki Bali. Ia juga berharap masyarakat setempat juga ikut membantu aparat kepolisian mencegah atau menangkal masuknya teroris ke Bali. “Jangan sampai ada bom lagi di Bali. Karena itu, setiap ada orang asing yang mencurigakan diharapkan masyarakat segera melaporkan ke polisi,” pintanya. rie
DENPASAR (Patroli Post) - “Saya bukan ngeles (mengelak-red) menang begitu kenyataannya. Sekarang aja masih banyak oknum polisi yang melanggar HAM, korupsi dan brutal,” tegas Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Nanan Sukarna pada Seminar Tentang Hak Asasi Manusia (HAM) di Denpasar, Selasa (18/8) kemarin.
Apabila bekerja berdasarkan aturan main kepolisian, kata Kadiv Humas, anggota Polri seyogyanya melaksanakan tugas penegakan hukum dan HAM, transparansi akuntabilitas ke publik serta comunity policing dengan baik dan bertanggung jawab.
Lebih jauh dikatakan, anggota Polri yang telah menjalani sidang disiplin di seluruh Indonesia dari tahun ke tahun jumlahnya mencapai ribuan orang. Bahkan, ada yang sudah dipecat karena terbukti terlibat berbagai persoalan.
Menurut Nanan Sukarna, pada 2007 anggota Polri yang telah menjalani tata tertib mencapai 13.481 orang. Sementara untuk sidang disiplin sebanyak 5.703 orang, dan yang sudah menjalani pidana 357 orang.
Jumlah tersebut meningkat tajam tahun 2008, yaitu mencapai 37.481 personel. Dengan rincian 7.035 personel menjalani tata tertib dan 1.164 personel dihukum sesuai prosedur tindak pidana.
Sementara tahun 2009 (hingga semester pertama), terdapat 11.995 personel anggota Polri yang terkena tata tertib dan 3.281 orang disidang disiplin dan 519 orang terkena tindak pidana. “Khusus untuk tahun 2009, sudah sebanyak 283 polisi yang dipecat. Dan yang melakukan kesalahan kinerja itu hanya oknumnya saja bukan institusinya,” kata Nanan Sukarna
Dijelaskan, dilihat dari jumlah personel yang dimiliki, Jajaran Polda Bali bisa dikategorikan yang paling ideal jika dibandingkan dengan jumlah personel yang dimiliki daerah lain.
Namun demikian, karena Bali menjadi salah satu daerah tujuan wisata paling diminati wisatawan asing, maka Bali diharapkan tetap mewaspadai masuknya teroris ke wilayah ini.
“Personel yang dimiliki Polda Bali adalah 1 banding 200, jelas ini sangat ideal. Angka ini jauh berbeda dengan daerah lain seperti Polda Jawa Barat yang hanya memiliki personel 1 berbanding 700,” papar Nanan Sukarna.
Untuk itu, ia minta Jajaran Polda Bali terus mengoptimalkan pengamanan dan mengawasi kelompok terorisme yang mencoba memasuki Bali. Ia juga berharap masyarakat setempat juga ikut membantu aparat kepolisian mencegah atau menangkal masuknya teroris ke Bali. “Jangan sampai ada bom lagi di Bali. Karena itu, setiap ada orang asing yang mencurigakan diharapkan masyarakat segera melaporkan ke polisi,” pintanya. rie
Senin, 17 Agustus 2009
Pasca Pembongkaran Tower, Jaringan Mulai Terganggu
Pasca pembongkaran belasan tower oleh jajaran Satpol PP Kabupaten Badung, jaringan komunikasi melalui telepon seluler di sejumlah kawasan di daerah ini mulai terganggu. Gangguan sinyal terjadi sejak hari Minggu (16/8) lalu, dan yang paling parah dialami para pengguna layanan Telkomsel dan XL.
BADUNG (Patroli Post) - Sejumlah pelanggan Telkomsel dan XL kepada koran ini, Senin (17/8) kemarin berharap agar kedua operator seluler tersebut segera mencari solusi, sehingga konsumen tidak dirugikan. “Sulit pakai nelepon dan kirim SMS. Berkali-kali SMS tapi nggak mau terkirim,” kata Putri, salah seorang penggunan XL di Kecamatan Petang, siang kemarin.
Hal serupa juga diungkapkan Alit, salah satu pengguna Telkomsel di kawasan Desa Sading, Mengwi. Dia mengatakan, bukan hanya sulit dipakai untuk internetan, untuk telepon dan SMS juga sulit. ”Tumben seperti ini (sulit nelpon dan SMS). Apa karena towernya di bongkar ya,” katanya.
Secara terpisah PR Telkomsel Bali, Hari Purwanto, siang kemarin ketika dikonfirmasi belum bisa menjelaskan penyebab tersendatnya layanan Telkomsel yang berlangsung sejak beberapa hari belakangan ini. Namun demikian, dia mensinyalir hal tersebut kemungkinan akibat peningkatan layanan pengguna Telkomsel.
”Secara umum tidak ada gangguan, tapi mungkin saja karena peningkatan jumlah pengguna, sehingga sinyalnya agak terganggu. Dan upaya up-grading jaringan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas jaringan yang sudah ada,” terang Purwanto.
Hal senada juga diungkapkan Nessy dari Humas PT Exelcomindo Pratama (XL). ”XL nggak ada gangguan kok. Kita berusaha memberika yang terbaik,” ujarnya seraya enggan mengomentari aksi pembongkaran tower di Badung.
Sekadar diketahui, sejak Senin (10/8) lalu, Pemkab Badung melalui jajaran Satpol PP Badung kembali membongkar 16 tower tak berizin alias bodong di wilayahnya. Pembongkaran tersebut dilakukan dengan dalih untuk menertibkan bangunan-bangunan melanggar serta mencegah terjadinya “hutan tower” di Badung. ana
BADUNG (Patroli Post) - Sejumlah pelanggan Telkomsel dan XL kepada koran ini, Senin (17/8) kemarin berharap agar kedua operator seluler tersebut segera mencari solusi, sehingga konsumen tidak dirugikan. “Sulit pakai nelepon dan kirim SMS. Berkali-kali SMS tapi nggak mau terkirim,” kata Putri, salah seorang penggunan XL di Kecamatan Petang, siang kemarin.
Hal serupa juga diungkapkan Alit, salah satu pengguna Telkomsel di kawasan Desa Sading, Mengwi. Dia mengatakan, bukan hanya sulit dipakai untuk internetan, untuk telepon dan SMS juga sulit. ”Tumben seperti ini (sulit nelpon dan SMS). Apa karena towernya di bongkar ya,” katanya.
Secara terpisah PR Telkomsel Bali, Hari Purwanto, siang kemarin ketika dikonfirmasi belum bisa menjelaskan penyebab tersendatnya layanan Telkomsel yang berlangsung sejak beberapa hari belakangan ini. Namun demikian, dia mensinyalir hal tersebut kemungkinan akibat peningkatan layanan pengguna Telkomsel.
”Secara umum tidak ada gangguan, tapi mungkin saja karena peningkatan jumlah pengguna, sehingga sinyalnya agak terganggu. Dan upaya up-grading jaringan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas jaringan yang sudah ada,” terang Purwanto.
Hal senada juga diungkapkan Nessy dari Humas PT Exelcomindo Pratama (XL). ”XL nggak ada gangguan kok. Kita berusaha memberika yang terbaik,” ujarnya seraya enggan mengomentari aksi pembongkaran tower di Badung.
Sekadar diketahui, sejak Senin (10/8) lalu, Pemkab Badung melalui jajaran Satpol PP Badung kembali membongkar 16 tower tak berizin alias bodong di wilayahnya. Pembongkaran tersebut dilakukan dengan dalih untuk menertibkan bangunan-bangunan melanggar serta mencegah terjadinya “hutan tower” di Badung. ana
Indonesia Berpacu dengan Waktu
Oleh : IGM Pujastana
Sebuah bangsa, kata Benedict Anderson, adalah sebuah komunitas yang dibayangkan. Disebut demikian karena sebagian besar anggota suatu bangsa tidak saling mengenal satu sama lain.
Dengan demikian si A yang orang Bali hanya bisa membentuk imajinasi dalam pikirannya bahwa dia memiliki ikatan kebangsaan dengan si B yang merupakan orang Batak.
Keinginan dan keinsyafan untuk mengikat diri menjadi suatu bangsa inilah yang disebut sebagai nasionalisme. Setidak-tidaknya begitulah yang diajarkan Bung Karno.
Semakin tinggi tingkat diferensiasi suatu bangsa secara etnis, agama, suku dan bahasa, maka semakin besar tantangan bagi nasionalisme. Dan semakin besar tantangan bagi nasionalisme semakin besar kemungkinan terjadinya disintegrasi suatu bangsa.
Sejarah bangsa-bangsa di dunia menunjukkan bahwa elemen-elemen suku, ras dan agama adalah faktor-faktor potensial penyebab disintegrasi.
Srilangka, misalnya, sampai sekarang terus dihantui perpecahan akibat pertikaian antara suku Tamil yang minoritas dan Sinhala yang mayoritas.
India terus menerus digerogoti pergolakan akibat penduduk Kahsmir yang beragama Islam ingin memisahkan diri dari India yang mayoritas beragama Hindu.
Sementara itu Filipina terus dihantui pertikaian akibat keinginan Suku Moro yang muslim memisahkan diri dari negara Filipina yang mayoritas warganya memeluk Katolik. Di Thailand bagian selatan, penduduk Muslim terus menyebar teror agar keinginan mereka membetuk daerah otonomi khusus dikabulkan.
Indonesiaisme
Indonesia sendiri dalam sejarahnya tidak terlepas dari ancaman disintegrasi akibat perbedaan etnis dan agama. Nasionalisme Indonesia atau paham Indonesiaisme terus-menerus mengalami tantangan, mulai dari Gerakan RMS (Republik Maluku Selatan) yang beranggotakan etnis Maluku dan beragama Kristen sampai pada gerakan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII) yang ingin membentuk negara Islam.
Sebagai suatu organisasi DI/NII sudah lama mati. Tetapi ide-ide Islam radikal yang dianutnya terus-menerus mengalami metamorfosa.
Sebagian penganut nilai-nilai Islam radikal ini berjuang mewujudkan terbentuknya Negara Islam Indonesia dengan cara-cara damai, terutama melalui gerakan dakwah.
Tetapi sebagian lainnya melakukan perjuangannya dengan menebar teror. Jika benar sinyalemen Polri bahwa tindakan teror mulai mengarah pada presiden sebagai simbol utama paham Indonesiaisme, maka Bangsa Indonesia sesungguhnya sedang menghadapi tantangan serius.
Terorisme merupakan suatu gerakan yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu dengan cara kekerasan. Dengan demikian sesungguhnya terorisme berlawanan dengan semangat nasionalisme Indonesia yang didasarkan atas berbedaan nilai-nilai agama, ras, etik dan bahasa.
Perjuangan melawan terorisme di Indonesia pada hakekatnya adalah perjuangan melawan sebuah ide, dalam hal ini ide yang dilandasi nilai-nilai Islam radikal yang memaksakan suatu cara pandang tertentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sesungguhnya perjuangan melawan ide radikal bukanlah pengalaman baru. Indonesia pernah dicengkram komunisme dan berhasil lolos. Indonesia juga berhasil melepaskan diri dari kungkungan otoritarianisme dan militerisme.
Tetapi akankah Indonesia sebagai suatu bangsa bertahan dari terorisme?
Perembesan ide-ide radikal terorisme terjadi sedemikian cepat dan telah menciptakan
habitat yang begitu subur bagi para teroris. Kecepatan penyebaran ide terorisme membuat Bangsa Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk memulihkan lagi ide toleransi terhadap keragaman yang merupakan landasan bagi paham Indonesiaisme.
Sebuah bangsa, kata Benedict Anderson, adalah sebuah komunitas yang dibayangkan. Disebut demikian karena sebagian besar anggota suatu bangsa tidak saling mengenal satu sama lain.
Dengan demikian si A yang orang Bali hanya bisa membentuk imajinasi dalam pikirannya bahwa dia memiliki ikatan kebangsaan dengan si B yang merupakan orang Batak.
Keinginan dan keinsyafan untuk mengikat diri menjadi suatu bangsa inilah yang disebut sebagai nasionalisme. Setidak-tidaknya begitulah yang diajarkan Bung Karno.
Semakin tinggi tingkat diferensiasi suatu bangsa secara etnis, agama, suku dan bahasa, maka semakin besar tantangan bagi nasionalisme. Dan semakin besar tantangan bagi nasionalisme semakin besar kemungkinan terjadinya disintegrasi suatu bangsa.
Sejarah bangsa-bangsa di dunia menunjukkan bahwa elemen-elemen suku, ras dan agama adalah faktor-faktor potensial penyebab disintegrasi.
Srilangka, misalnya, sampai sekarang terus dihantui perpecahan akibat pertikaian antara suku Tamil yang minoritas dan Sinhala yang mayoritas.
India terus menerus digerogoti pergolakan akibat penduduk Kahsmir yang beragama Islam ingin memisahkan diri dari India yang mayoritas beragama Hindu.
Sementara itu Filipina terus dihantui pertikaian akibat keinginan Suku Moro yang muslim memisahkan diri dari negara Filipina yang mayoritas warganya memeluk Katolik. Di Thailand bagian selatan, penduduk Muslim terus menyebar teror agar keinginan mereka membetuk daerah otonomi khusus dikabulkan.
Indonesiaisme
Indonesia sendiri dalam sejarahnya tidak terlepas dari ancaman disintegrasi akibat perbedaan etnis dan agama. Nasionalisme Indonesia atau paham Indonesiaisme terus-menerus mengalami tantangan, mulai dari Gerakan RMS (Republik Maluku Selatan) yang beranggotakan etnis Maluku dan beragama Kristen sampai pada gerakan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII) yang ingin membentuk negara Islam.
Sebagai suatu organisasi DI/NII sudah lama mati. Tetapi ide-ide Islam radikal yang dianutnya terus-menerus mengalami metamorfosa.
Sebagian penganut nilai-nilai Islam radikal ini berjuang mewujudkan terbentuknya Negara Islam Indonesia dengan cara-cara damai, terutama melalui gerakan dakwah.
Tetapi sebagian lainnya melakukan perjuangannya dengan menebar teror. Jika benar sinyalemen Polri bahwa tindakan teror mulai mengarah pada presiden sebagai simbol utama paham Indonesiaisme, maka Bangsa Indonesia sesungguhnya sedang menghadapi tantangan serius.
Terorisme merupakan suatu gerakan yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu dengan cara kekerasan. Dengan demikian sesungguhnya terorisme berlawanan dengan semangat nasionalisme Indonesia yang didasarkan atas berbedaan nilai-nilai agama, ras, etik dan bahasa.
Perjuangan melawan terorisme di Indonesia pada hakekatnya adalah perjuangan melawan sebuah ide, dalam hal ini ide yang dilandasi nilai-nilai Islam radikal yang memaksakan suatu cara pandang tertentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sesungguhnya perjuangan melawan ide radikal bukanlah pengalaman baru. Indonesia pernah dicengkram komunisme dan berhasil lolos. Indonesia juga berhasil melepaskan diri dari kungkungan otoritarianisme dan militerisme.
Tetapi akankah Indonesia sebagai suatu bangsa bertahan dari terorisme?
Perembesan ide-ide radikal terorisme terjadi sedemikian cepat dan telah menciptakan
habitat yang begitu subur bagi para teroris. Kecepatan penyebaran ide terorisme membuat Bangsa Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk memulihkan lagi ide toleransi terhadap keragaman yang merupakan landasan bagi paham Indonesiaisme.
Kamis, 13 Agustus 2009
KSU Bale Dana Mesari Garap Petani Kopi
Pasarkan ‘Tai Lubak’ Hingga ke Mancanegara
Sejauh ini kabupaten Bangli memang layak disebut sebagai sentra pengahasil kopi, didukung topografinya yang berada di daerah ketinggian, berbagai jenis tanaman kopi dapat tumbuh subur. Koperasi Serba Usaha (KSU) Bale Dana Mesari memanfaatkan potensi ini dan mampu memasarkan produk kopi ‘Tai Lubak’ hingga ke manca Negara.
BANGLI (Patroli Post) - Maka tidaklah heran kalau petani yang memmpunyai lahan disekitaran Desa Pengotan hingga Kecamatan Kintamani, lebih memilih menanam kopi darapada tanaman jenis lainya. Hal ini yterbukti di Desa Pengotan, dimana sebagaian lahan pertanian disulap menjadi hutan kopi terutama tanaman kopi jenis Arabika. Namun kekhawatiran petani akan terjadinya permainan harga pada saat musim panen adalah suatu hal yang ditakutkan.
Bwerkaitan dengan itu munculah ide dari beberapa petani subak abian membentuk sebuah badan usaha (koperasi), yang pada nantinya hasil panen bisa dibeli koperasi dan kopi langsung diolah dan dipasarkan.
Manejer Koperasi Serba Usaha (KSU) Bale Dana Mesarai, Nengah Purna menuturkan, KSU didirikan 31 Desember 2004. “Ide mendirikan koperasi ini muncul secara tiba-tiba. Waktu itu kita kumpul dengan teman-teman seprofesi, lantas tanpa disadari muncul niat membentuk koperasi,” ungkapnya, seraya menambahakan awal berdirinya KSU hanya beranggotakan 33 orang, dimana setiap anggota kena simpanan pokok Rp1 juta dan simpanan wajib Rp10 ribu perbulan.
Tambah pria yang juga bertugas di Panwas Bangli ini setelah beberapa tahun berjalan, jumlah anggota meningkat menjadi 346 anggota saat ini. Dalam perjalanannya koperasi mengemban usaha membeli hasil panen kopi milik petani dan selanjutnya dengan usaha pengolahan menjadi kopi siap edar. Terkait dengan pemasaran hasil produksi kopi, KSU Bale Dana Mesari bekerjasama dengan eksportir kopi PT Asal Jaya Dampit Malang.
Tambah Purna untuk mendapatkan kwalitas kopi yang bagus, maka di saat pemetikan atau panen petani atau subak Abian menggunakan pola petik merah yang langsung diolah melalui mesin pengolahan guna menjaga keaslian aroma. Tidak itu saja, kini sudah dikembangkan kopi loak, yakni ‘Kopi Tain Lubak’ yang mekanisme pembuatan kopi loak itu memang sedikit rumit, dimana kopi yang nantinya diolah itu berasal dari sisa atau kotoran musang. “Untuk kopi jenis loak ini memang sangat digemari konsumen,” ujarnya. Dia menambahkan sejauh ini pangsa pasar kopi jenis arabika kopyor (arob) yang menjadi unggulan petani atau subak abian suka maju selain dipasarkan di tingkat lokal dan domestik juga sudah menembus pangsa pasar internasional atau diekspor ke Barzil, Jepang dan Prancis.
Namun demikian kata dia, di dalam perjalanan KSU ini juga sering mengalami kendala permodalan. “Kalau musim panen, tentu jumlah kopi yang kita tampung lumayan banyak dan untuk pembelian kopi dari petani sistemnya harus tunai,” kata dia. sam
Sejauh ini kabupaten Bangli memang layak disebut sebagai sentra pengahasil kopi, didukung topografinya yang berada di daerah ketinggian, berbagai jenis tanaman kopi dapat tumbuh subur. Koperasi Serba Usaha (KSU) Bale Dana Mesari memanfaatkan potensi ini dan mampu memasarkan produk kopi ‘Tai Lubak’ hingga ke manca Negara.
BANGLI (Patroli Post) - Maka tidaklah heran kalau petani yang memmpunyai lahan disekitaran Desa Pengotan hingga Kecamatan Kintamani, lebih memilih menanam kopi darapada tanaman jenis lainya. Hal ini yterbukti di Desa Pengotan, dimana sebagaian lahan pertanian disulap menjadi hutan kopi terutama tanaman kopi jenis Arabika. Namun kekhawatiran petani akan terjadinya permainan harga pada saat musim panen adalah suatu hal yang ditakutkan.
Bwerkaitan dengan itu munculah ide dari beberapa petani subak abian membentuk sebuah badan usaha (koperasi), yang pada nantinya hasil panen bisa dibeli koperasi dan kopi langsung diolah dan dipasarkan.
Manejer Koperasi Serba Usaha (KSU) Bale Dana Mesarai, Nengah Purna menuturkan, KSU didirikan 31 Desember 2004. “Ide mendirikan koperasi ini muncul secara tiba-tiba. Waktu itu kita kumpul dengan teman-teman seprofesi, lantas tanpa disadari muncul niat membentuk koperasi,” ungkapnya, seraya menambahakan awal berdirinya KSU hanya beranggotakan 33 orang, dimana setiap anggota kena simpanan pokok Rp1 juta dan simpanan wajib Rp10 ribu perbulan.
Tambah pria yang juga bertugas di Panwas Bangli ini setelah beberapa tahun berjalan, jumlah anggota meningkat menjadi 346 anggota saat ini. Dalam perjalanannya koperasi mengemban usaha membeli hasil panen kopi milik petani dan selanjutnya dengan usaha pengolahan menjadi kopi siap edar. Terkait dengan pemasaran hasil produksi kopi, KSU Bale Dana Mesari bekerjasama dengan eksportir kopi PT Asal Jaya Dampit Malang.
Tambah Purna untuk mendapatkan kwalitas kopi yang bagus, maka di saat pemetikan atau panen petani atau subak Abian menggunakan pola petik merah yang langsung diolah melalui mesin pengolahan guna menjaga keaslian aroma. Tidak itu saja, kini sudah dikembangkan kopi loak, yakni ‘Kopi Tain Lubak’ yang mekanisme pembuatan kopi loak itu memang sedikit rumit, dimana kopi yang nantinya diolah itu berasal dari sisa atau kotoran musang. “Untuk kopi jenis loak ini memang sangat digemari konsumen,” ujarnya. Dia menambahkan sejauh ini pangsa pasar kopi jenis arabika kopyor (arob) yang menjadi unggulan petani atau subak abian suka maju selain dipasarkan di tingkat lokal dan domestik juga sudah menembus pangsa pasar internasional atau diekspor ke Barzil, Jepang dan Prancis.
Namun demikian kata dia, di dalam perjalanan KSU ini juga sering mengalami kendala permodalan. “Kalau musim panen, tentu jumlah kopi yang kita tampung lumayan banyak dan untuk pembelian kopi dari petani sistemnya harus tunai,” kata dia. sam
Tewas Misterius di Pura Sakti
Ketut Supada (42) warga Dusun Negari, Banjarangkan meninggal saat mekemit di Pura Sakti Pangrebongan Negari, Kamis (13/8) sekitar pukul 00.00 Wita
SEMARAPURA (Patroli Post) - Menurut saksi Wayan Lodra (33) korban berangkat terlebih dulu dan tidur di salah satu gedong Pura Sakti Pangrebongan. Dirinya menyusul kemudian sekitar pukul 02.00 Wita dini hari dan langsung merebahkan diri di samping korban.
Saat itu korban terlihat seperti tertidur lelap. Saksi yang mengaku tidak bisa tidur kemudian kembali ke rumah, tanpa berusaha membangunkan korban. Sampai pukul 07.00 Wita korban belum juga kembali pulang.
Istri korban Gusti Ayu Krisnawati menyusul ke Pura dan menemukan suaminya sudah terbujur kaku. Keluarga korban kemudian melaporkan kasus ini ke Mapolsek Banjarangkan. Kapolsek Banjarangkan. Kapolsek AKP Ketut Suastika kemudian memeriksa TKP.
Namun pihak keluarga korban tidak mengizinkan dilakukannya otopsi terhadap mayat korban.
Pihak keluarga malah menanyakan pada paranormal hari baik untuk melakukan upacara penguburan. Korban yang memiliki anak 3 orang diketahui mengidap hernia dan maag yang cukup akut.
Pihak Kepolisian masih mendalami kasus ini untuk mencari tahu penyebab kematian yang sebenarnya. sug
SEMARAPURA (Patroli Post) - Menurut saksi Wayan Lodra (33) korban berangkat terlebih dulu dan tidur di salah satu gedong Pura Sakti Pangrebongan. Dirinya menyusul kemudian sekitar pukul 02.00 Wita dini hari dan langsung merebahkan diri di samping korban.
Saat itu korban terlihat seperti tertidur lelap. Saksi yang mengaku tidak bisa tidur kemudian kembali ke rumah, tanpa berusaha membangunkan korban. Sampai pukul 07.00 Wita korban belum juga kembali pulang.
Istri korban Gusti Ayu Krisnawati menyusul ke Pura dan menemukan suaminya sudah terbujur kaku. Keluarga korban kemudian melaporkan kasus ini ke Mapolsek Banjarangkan. Kapolsek Banjarangkan. Kapolsek AKP Ketut Suastika kemudian memeriksa TKP.
Namun pihak keluarga korban tidak mengizinkan dilakukannya otopsi terhadap mayat korban.
Pihak keluarga malah menanyakan pada paranormal hari baik untuk melakukan upacara penguburan. Korban yang memiliki anak 3 orang diketahui mengidap hernia dan maag yang cukup akut.
Pihak Kepolisian masih mendalami kasus ini untuk mencari tahu penyebab kematian yang sebenarnya. sug
Langganan:
Postingan (Atom)

